Oleh : A.A.Bagus Surya Negara (gung le)
Dimuat di Bali Post, 29 Agustus 2007
Munculnya prediksi mengenai kondisi Pulau Bali yang akan menjadi semakin sempit serta hilangnya beberapa kawasan pantai di Bali termasuk Sanur dan Kuta pada 20-30 tahun kedepan akibat efek pemanasan global sebenarnya merupakan kondisi yang seharusnya memang “wajar” terjadi, kenapa saya berkata begitu? karena bila kita melihat dan mau menyadari bahwa sebenarnya kita manusia mungkin termasuk anda dan saya adalah “penyumbang” terbesar dari keadaan kondisi Bali yang kritis ini, dan memang harus kita akui masyarakat bali selama ini masih memperlihatkan kesan sing milu-milu” terhadap terjadinya efek pemanasan global yang terjadi saat ini dan bahkan banyak yang belum mengerti apa itu pemanasan global. Kadang terdengar lucu ditelinga kita, bila mendengar cara masyarakat Bali menyikapi efek kekacauan iklim dan ombak besar yang menerjang Bali akhir-akhir ini, sebagian besar masyarakat mengatakan karena Gumi sube wayah”, selentingan kata ini menggambarkan betapa masyarakat lebih memandang keadaan alam yang serba kacau ini adalah semata-mata akibat kodrat bumi yang semakin tua, bahkan sebagian masyarakat berpendapat bahwa kondisi ini adalah diluar kendalinya nya alias nak mule keto.
Strategi “menikam diri sendiri” atau instropeksi diri seperti yang pernah dibahas Bali post beberapa waktu yang lalu sepertinya masih sulit diterapkan, yang ada malahan strategi “menikam orang lain” alias menyalahkan orang lain, bagaimana tidak, contoh nyatanya adalah seperti dalam menyikapi semakin sempitnya lahan pertanian di Bali, siapakah yang patut disalahkan? apakah para investor yang membelinya untuk dijadikan lahan beton? tentu saja tidak, kita juga salah!, istilah jakartanya “loe jual, gua beli”. Peraturan apapun yang dibuat untuk mencegah semakin hilangnya jati diri
Dalam ajaran Hindu, mengenal konsepsi Tri Murti, yang mana dinyatakan bahwa Dewa Brahma difungsikan sebagai pencipta alam semesta, Wisnu sebagai sang pemelihara alam semesta dan Siwa sebagai pemrelina atau pelebur alam semesta, bila kita maknai konsep ini maka dapatlah terlihat betapa konsep keseimbangan alam semesta ini telah begitu ditata dengan seimbang dan apik oleh sang pencipta, untuk itu kita sebagai manusia hendaknya sangat bersyukur akan segala karuniaNYA yang dilimpahkan kepada kita, serta ikut menjaga alam sebagai suatu maha karya tuhan yang suci ini, bukan malah merusak konsepsi keseimbangan alam itu sendiri sehingga fungsi Siwa sebagai sang pemrelina / pelebur malah “diambil alih” oleh manusia itu sendiri, jangan sampai kehancuran alam serta umat manusia didunia ini disebabkan oleh ulah manusianya sendiri.
Bali yang lebih dikenal dengan sebutan Pulau Dewata hendaknya masyarakatnya juga memiliki sifat-sifat sebagaimana dewa dan dewi dalam artian Pulau Dewata sebagai barometer pariwisata indonesia hendaknya menjaga bagimana agar kondisi Bali tidak mengalami pergeseran ataupun perubahan kondisi yang membuat Bali tidak nyaman lagi sebagai tempat pariwisata,bahkan tidak nyaman lagi bagi masyarakatnya sendiri, kita harus mulai sadar untuk menjaga alam Bali dengan penuh kearifan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dengan memperhatikan hal-hal kecil yang keliatan sepele tapi sebenarnya sifatnya mendasar seperti mengurangi emisi gas buang kendaraan pribadi, penggunaan AC yang tidak berlebihan dalam upaya untuk mengurangi kadar CO2 di atmosfer, serta bagi krama Bali yang berprofesi sebagai nelayan hendaknya janganlah ikut-ikutan mencari ikan dengan menggunakan Bom ikan karena dapat merusak gugusan karang disepanjang perairan pantai padahal gugusan karang ini memiliki fungsi yang sangat vital dalam menjaga pantai dari abrasi bahkan tsunami, juga bagi para petani pemilik lahan pertanian di Bali agar tidak semakin mudah tergiur untuk menjual tanahnya kepada para investor luar yang tak bertanggung jawab, dan yang paling utama adalah mari kita bersama-sama untuk merealisasikan konsep Tri Hita Karana dalam wujud nyata kehidupan sehari-hari kita masyarakat Bali yang damai dan sentosa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar